ditulis oleh Anisa Tristiani
Bandung adalah Kota
Kembang. Alam yang indah dan sejuk menbuat kenyamanan bagi setiap orang yang
melihatnya dan tidak mudah di lupakan, ada begitu banyak tempat yang
tersembunyi dan belum orang ketahui karena kurang perhatiannya pemerintah
terhadap objek wisata di Kota Kembang. Pemerintah hanya mementingkan
taman-taman Kota saja dan tidak sampai ke pelosok.
Beberapa tahun terakhir,
keindahan sejumlah tempat wisata terancam punah karena disalah gunakan dan
serakahnya orang-orang yang memanfaatkannya. Padahal jika bisa menjaga alam,
daerah bisa mendapatkan pendapatan sekaligus memelihara alam selingkungannya.
Di Dago, Bandung Utara,
terlihat jelas memiliki curug yang bening dan tenang serta terdapa dua buah
batu tulis peninggalan Raja Thailand dan lebih terkenal dengan sebutan (Curug
Dago), karena terletak di kawasan Dago Rt01/08 kec, Cidadap ke, Ciumbuleuit.
Untuk menuju kawasan ini harus melewati Simpang Dago lurus ke atas, dari
terminal Dago belok kiri kebawah dan menuju curug harus jalan kaki dan hanya
bisa memakai kendaraan roda dua.
Curug Dago merupakan salah
satu objek wisata yang ada air Terjun di Bandung, dengan memiliki ketinggian 12
M. Terbentuknya curug ini berasal dari aliran sungai cikapundung yang mengalir
dari Lembang dan memasuki Kota Bandung.
Namun lokasinya
tersembunyi objek wisata ini masih minim pengunjunnya di sekitar kawasan curug Dago
ini. Curug Dago menyimpan jejak sejarah dari Kerajaan Thailand, tidak jauh dari
air terjun terdapat dua buah Prasasti Batu Tulis bekas peninggalan sejarah
pada tahun 1818 M, dua prasasti tersebut peninggalan dari Raja Rama V dan Raja
Rama VII yang pernah berkunjung ke curug Dago.
Seharusnya pemerintah Kota
Bandung merenovasi tempat untuk beristirahat
para wisatawan agar lebih nyaman. Dan menanggulangi sampah-sampah yang terdapat
di air cikapundung yang mengalir ke curug Dago, jangan hanya mempercantik
taman-taman kota saja. Tempat wisatapun perlu di perhatikan jangan di acurkan,
karena di curug Dago banyak sejarah yang perlu di ketahui oleh anak cucu kita
nanti, karena sejarah tidak akan pernah mati.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar